Posted by: selamugm | Friday, 8 August 2008

menulis untuk MERDEKA

mendingan kau lepaskan, dari pada kau tersiksa sendiri, dan kau tersiksa sendiri…..

wooo yoooo woyou woyouw……steven teriak di pohon kelapa-nya,

aku masih menulis dan menulis, apa aja akan aku tulis, luweh, terserah, aku tidak akan terbelenggu dengan susunan kalimat, tata bahasa, tata letak, kaidah bahasa indonesia yang baik dan benar, pokoknya aku hanya ingin menulis,

sekedar melepaskan, agar aku tidak tersiksa sendiri, tersiksa dan terjebak pada isi kepala yang nggak mampu terlepas keluar, membuncah dan memenuhi dimensi ruang dan waktu, memori yang tinggal sejengkal serabut syaraf, lebih baik menulis dan terus membuat kata-kata, mengeluarkan pikiran ke dalam uraian kata-kata dan tumpukan kalimat yang kadang tidak terstruktur ke dalam frase yang benar.

menulis bagi ku sesuatu yang menarik, bisa dijadikan wahana unutk berekreasi, ber- re creation, berkreasi kembali, setelah berkarya dengan mata dan kuping mencoba berkarya dengan tulisan,

dengan adanya media seperti ini, akan memudahkan bagi mereka yang tulisan tangannya jelek, tulisan tangan yang hanya bisa dibaca oleh dirinya sendiri, bahkan kadang dirinya sendiri tidak bisa membaca apa yang dituliskan tangannya. inilah mungkin yang menyebabkan kenapa bule-bule eropa itu tulisannya jelek-jelek, sedang pada jaman dahulu jaman Bhetoven dan Napoleon, tulisan tangan orang eropa bagus dan indah, eknapa saat ini kok rata-rata jelek, mungkin karena mereka sudah sangat biasa dengan keyboard sejak kecil hingga dewasa, sungguh berbahagia dan beruntung sampai saat ini amsih bisa menulis dengan tangan ini, dengan jari dan pensil ke dalam kertas, sedang media ini hanya permainan huruf belaka, penempatan huruf-huruf yang terjalin menjadi kata, kalimat dan frase.

bahkan sebuah buku yang tebal dengan halaman-halamannya, kadang hanya menjadi bantal tidur dan sampah tidak berguna, bukankah di dalamnya ada tulisan, tulisan tentang apapun itu, barangkali dalam hidup kita belum ngerti atau belum pernah tau apa isi buku tersebut. Rasa pensaran akan menciptakan kesenangan orang untuk membaca, sedang kesenangan orang menulis lebih dipengaruhi dengan kondisi pada saat sepi, saat tidak ada kegiatan berarti, tidakada kesibukan kerja, ya pura-pura kerja jadi penulis, yang akhirnya akan mempermudah menjawab pertanyaan orang.

“sibuk apa sekarang ?”

dengan tegas dan ringkas bisa dijawab:

………”menulis!”,

menulis apa tentang apa bidang apa dimana, itu belakangan, yang penting menulis dan terus menulis tentang apa saja, tentang apa yang pernah dilakukan hari ini, tentang apa yang pernah terjadi dalam perjalanan hidup. Insya Alloh kalo budaya nulis ini terus ada dan berkembang, maka sebuah bangsa akan lebih baik, sebab di kemudian hari akan ada orang yang membaca, semakin banyak bahan tulisan dan makin banyak ragam cerita hidup, akan menarik pembaca di jaman kemudian,

menulis bagiku adalah hiburan, menulis bagiku adalah sebuah kesenangan, sebuah pelarian dari rasa sepi dan malas omong, mungkin dengan bicara komunikasi akan lebih baik, tetapi unutk berkomunikasi dengan otak sendiri, dialog antara otak dan hati dalam satu tubuh, dialog antar organ tubuh yang sehat dengan dunia imaji manusia, kadang aku merasa hidup di dunia pikir, di dunia nalar, dunia yang masih maya masih menjadi bayangan pikir, dunia apa ini, seperti dalam dunia http://www ini?

dunia apa ini, dunia yang serba ada, bisa dilihat dan dibaca namun tidak bisa dirasa, apa yang ingin kita ketahui semua ada, bahkan kadang aku berpikir bahwa Goggle seperti Tuhan, the goggle tahu segala hal, seperti dzat tertentu yang bisa memberi tahu tentang segala hal, apakah itu Tuhan, yang tahu segalaNya.

saat kita mencoba menalar tentang itu, tentulah banyak orang menentang, kita akan dibilang ‘kafir’ dibilang ‘atheis’, dan sebuatn lain yang menjelaskan bahwa kalau kamu menganggap ada sesuatu yang menyamai atau melebihi dari kekuasaan Tuhan adalah “kafir”, itu “musryik” dan sebagainya.

kok bisa begitu yah?

otak ku bertanya kepada hatiku:

“kamu tuh sedang nulis apa?” tanya otak kepada hati

“aku tidak menulis, aku hanya membatin, yang menulis adalah jari tangan” jawab hati kepada otak.

“trus kenapa kamu terus mempunyai bahan tulisan, dan kenapa jari yang menulis sedang jari bisa menulis karena aku perintah” kata otak lagi kepada hati.

“maka bertanyalah kepada jari tangan, apa yang ida tulis!” elak hati kepada otak.

“aku akan bertanya kepada jari, tetapi apakah jari bisa mendengar, sedang dia tidak punya kuping?”

“tentu saja jari tidak bisa mendengar, tetapi dia mampu bergerak dan menciptakan tulisan yang bisa dibaca oleh mata, walau dia tidakemmpunyai telinga buat mendengar”

saat otak ragu-ragu tuk bertanya kepada jari, akhirnya otak kembali kepada hati, dan mereka saling diam, tidak membicarkan tentang suatu hal pun, hati tetap aja diam dan otak terus saja berjalan ke sana kemari mencari sesuatu yang bisa diberikan kepada jari.

Jari tidak peduli dengan obrolan antara Otak dan Hati, dia terus saja menari mengikuti reflek otot, dan kadang terhenti karena deheman dan sentuhan otak yang mengingatkan kalau tulisan itu salah.

“terima kasih Otak, kamu telah menyadarkan ku untuk tidak salah dalam menulis!”

begitulah kira-kira dialog antara tiga organ tubuh, yaitu Otak, Hati dan Jari.

yang nampak sibuk menyesuaikan dengan kuping yang terus mendengar lagu, mendengar irama yang bernada, kadang keras kadang lembut, ada irma di siut, ada beat-beat yang lebih meregae, ada suara terompet sebagai brass section diantara mentul-mentulnya senar gitar yang di sentak jari.

wooo oh iyi iyo iyooooooooo….kembali pada irama regae …….

banyak yang bertanya, aku ini mau jadi apa? kok nggak kuliah juga nggak kerja, tapi kujawab aku lah ini aku apa adanya, aku berkarya dengan apa yang kupunya, tidak menganggu kalian, aku berkarya dengan apa yang kupunya, yang penting aku tidak menipu dan bikin susah kalian, bebas lepas tanpa beban, kujalani apa adanya, bebas lepas tanpa beban …………aku merdeka!

tapi jangan kira aku tak berbuat apa-apa,

dengan tidak menipu dan tidak menimbulkan persoalan dengan orang lain, adalah “berbuat”. Aktivitas yang pasif, tidak menipu dan tidak mengganggu orang lain, sebenarnya pandangan hidup yang menarik, tetapi apakah bisa begitu?

 

Jabrik


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories