Posted by: selamugm | Friday, 8 August 2008

antara “IMAGE” dan icon product

lepas dan terbang bersama angin………………….

kemudian aku menulis lagi, tetapi sekarang aku ditemani oleh Bob Jones dengan ‘wonderfull world‘nya,

apakah sebuah irama musik yang terngiang dan selalu terdengar di telinga, akan mempengaruhi tema sebuah tulisan, pergerakan jari ini akan menghasilkan apa?

Tarian jemari ini akan menciptakan tulisan apa, ikuti saja alunan irama ini, dengan terus menggerakkan jari di atas tuts, apa yang nanti akan tertulis kadang aku nggak ngerti, kadang sekedar menulis saja, me+ tulis awalan me- dengan kata pokok tulis jadi ‘menulis’, menghasilkan tulis+an yang bermakna kata benda, kata kerja yang menghasilkan kata benda.

i think to my self,……….

sudah hampi jam 02.00 wib pagi ini, masih saja aku di depan komputer, menulis, mencurahkan apa yang sedang kupikirkan, mengemas ke dalam tulisan, otakku yang bercerita kepada hatiku, jari tangan ku yang memberi semangat untuk itu, mata yang terus setia menyangga kepala yang kadang terkulai bertangkai leher,

sedang apakah istri ku saat ini, saat dia telpon tadi katanya baru sampai Cikampek, apakah sedini ini sudah sampai di stasiun tujuan, atau mungkin dia sedang tertidur lelap di kursi kereta eksekutif.

sambil menunggu istriku sampai tempat kerja, aku menulis untuk mengusir sepi dan mengusir nyamuk yang terus mengerubuti sekujur tubuh ini, nggak peduli kaki, tangan, leher, pipi, bahkan yang paling kurang ajar ada di daun telinga, denging sayapnya mengusik lamunanku, membuat bising telingaku , yang sebenarnya ingin selalu mendengar suara lembut.

“hallo…….sedang apa sayangku?” terdengar suara dari HP kuno ini.

“hei …hallo juga..he…he.., hu’uh nih masih nulis”

“nulis apa sayang?”

“apa aja, seperti yang pernah kau katakan bahwa menulis itu sehat, bisa dijadikan kebiasaan baik, menulis itu bukan perbuatan dosa, menulis itu bebas dan merdeka!”

“oohh….begitu ya? oke deh..lanjutin aja menulisnya, aku tidak ingin mengganggu mood mu dalam menulis, dan aku hanya ingin bilang: aku kangen kamu ! ”

nulis opo aku mau, kaya sinetron aja, hehehee…..tapi begitulah adanya, aku ingin menulis apa yang ingin aku tulis, seperti dini hari ini, aku terus saja menulis………..

ups !

tiba-tiba mulut ini menguap, kata ahli kesehatan itu tandanya sudah ngantuk, tapi kata sebagian yang lain itu tandanya kekurangan oksigen, intinya bahwa tubuh butuh istirahat, organ tertentu perlu beristirahat kecuali satu organ tubuh yang tidak boleh dan tidak mungkin beristirahat, yaitu “jantung”.

itulah sebabnya lambang cinta, lambang kasih sayang, iconnya love adalah gambar jantung, yang kadang ada saja yang masih melihat lambang sepeti itu adalah “daun waru”. Bagian tumbuhan yang memberi nafas, memberi hidup pada batang dan akar, mampu memberikan napas dengan klorofilnya. Heart kata orang Inggris, gambar hati atau gambar jantung yang benar?

Lambang “LOVE” itu adalah pengejawantahan gambar hati atau jantung ya?

belum ada kesepakatan akan hal ini, seperti sepakatnya orang untuk selalu patuh dengan lampu ‘trafic light’, bahwa yang menyala paling atas berwarna merah, kalao yang menyala tengah itu warna kuning, dan kalau yang menyala lampu paling bawah itu adalah warna hijau. Dari lampu lalu lintas itu bisa diambil pelajaran dan ilmu, bahwa yang dikatakan warna merah, kuning dan hijau adalah kesepakatan. kesepakatan untuk saling percaya, kesepakatan untuk menyatukan persepsi tentang “warna merah”, jadi tidak perlu lagi mendebatkan soal warna merah muda, merah pink, merah jingga, merah bata, merah marun dsb. Bahwa yang disebut dengan “warna merah” adalah lampu lalu lintas yang berjumlah tiga berjajar dari atas ke bawah, yang saat menyala di posisi paling atas. Itu adalah merah. Kenapa hal ini menarik unutk dijelaskan, sebab bagi orang buta warna kadang susah menjelaskan arti warna merah. Demikian juga dengan kuning dan hijau.

Apakah fenomena ini yang menjadi icon warna menarik dalam penentuan pilihan partai politik, ada partai beraliansi merah, ada yang menggunakan warna kuning sebagai warna dasar atribut partai, dan ada yang berafiliasi dengan warna hijau. Sebut saja partai merah adalah nasionalis kebangsaan, lebih berwarna revolusi dipadu dengan warna hitam dan kuning, aku tidak ingin menyebut demokrasi, sebab demokrasi dari kata demo + cratein yang berarti kekuasaan dari, oleh dan untuk rakjat, padahal sesungguhnya makna dari “kekuasaan” dan “rakjat” akan tergantung dengan ‘kepentingan’ yang memberi makna. Kemudian ada partai politik yang menggunakan warna kuning sebagai warna kebanggaan, seperti era kekuasaan Presiden Soeharto warna kuning ini begitu berpengaruh dalam setiap segi kehidupan, pilihan warna kuning akan membentuk opini orang yang melihat warna ini, padahal boleh saja HArmoko memakai warna hijau atau merah pada saat itu, tapi hal itu tidak dimungkinkan dalam menjalankan tugas-tugasnya. Kemudian warna hijau akan selalu diikuti dengan kata Bismillah dan Allohuakbar, warna yang lebih dekat dengan sentimen agama, hijau yang islam. hijaunya orang mosleem, hijau warna penutup keranda jenazah, hijaunya akhir kehidupan yang akan menuju ke dunia berikutnya. Padahal kalau boleh jujur, daun juga berwarna hijau, tapi “warna hijau” di sini lebih bermakna ke dalam hijaunya islam, hijaunya islam tradisional, biasanya akan dipadu dengan garis putih dan hitam sebagai variasinya.

Merah, kuning, hijau di langit yang biru ……………….!

pelukismu Agung, siapa gerangan?

kalo yang ini akan dimaknai oleh anak-anak indoensia sebagai “pelangi”, pelangi yang dilukis oleh “Agung”, entah pelukis mana yang bericon agung ini, tetapi hampir semua orang di indonesia yang pernah mengenyam pendidikan TK, akan sangat mengerti dan paham dengan pertanyaan ‘siapakah pelukis pelangi?’

dan mengapa pelangi hanya dimaknai dengan warna merah, kuning dan hijau, tetapi ada penjelasan berikutnya ‘di langit yang biru’, penambahan vocab tentang warna bertambah lagi yaitu “biru”. Nah…sekarang ada wrna baru lagi yaitu ‘biru’. dan warna inipun tidak lepas dari icon warna partai politik di indonesia. Oleh karena itu dengan mencermati pemaknaan ‘warna’ bisa dijadikan parameter kultur politik di Indoensia, bahwa irama misi dan program kerjanya akan selalu begitu begitu saja, tidak ada kemajuan dan tidak berkembang dengan ‘warna’ yang lain.

Kaum rasta varian di belahan bumi lain juga punya makna sendiri dengan ‘merah kuning hijau’ ini, tapi lihatlah dalam pikiran kita, “sense of colour”-nya akan beda, ada sesuatu yang berbeda dengan merah kuning hijaunya lampu lalu lintas, partai politik, dan dengan bendera negara bagian Amerika, yaitu Jamaica.

Merah kuning hijau disandingkan dengan rambut panjang yang gimbal, memainkan musik jenis regae, di pantai indah berpasir putih, kental dengan nuansa tropical, dan sebagian kecil menambah variasi ini dengan daun ganja. Bahwasannya paket vegetariano adalah regae, gimbal, ganja dan atribut berwarna merah kuning hijau. Itulah “mind set” dalam menentukan sebuah “icon”, menjadikan ‘trade mark’, membuat mudah ingatan orang akan ‘sesuatu’. Misal dalam membicarakan promosi product rokok, warna akan sangat menentukan, ‘bentoel biru’, ‘gudang garam merah’, ‘djarum coklat’, ‘sampoerna hijau’, tetapi hingga saat ini belum ada yang mencoba mengembangkan icon “kuning” dalam produksi rokok, mungkin trauma dengan masa lalu sistem politik indonesia yang ‘memalukan’. Warna kuning menjadi seperti sebuah singkatan “PKI”, tiga huruf yang begitu ditakuti setiap warga negara indonesia pada saat itu. sekedar menulis huruf P, huruf K dan huruf I yang dijajarkan, atau mengucapkannya saja dianggap sebagai hal yang menakutkan, memalukan, sesuatu yang hina, negatif, atheis, tidak beragama, sadis, dan penghuni Pulau Buru. Sebenarnya menjadi keuntungan sebuah partai politik, hingga mampu mempengaruhi mindset beberapa generasi, mengakar menguat dalam alam bawah sadar dalam memaknai huruf “P K I” ini.

warna kuning yang jarang dipakai perusahaan rokok dalam perebutan strategi promosinya, yang sering ditayangkan di TV hanya coklat, biru, merah dan hijau. dan tinjauan tentang warna dapat dijadikan strategi khusus dalam menciptakan “IMAGE” untuk beberapa kepentingan.

merah kuning hijau nya Jamaica, merah putihnya Indonesia, merahnya PKI, hijaunya NU, birunya PAN, orange-nya Tim SAR dan tukang parkir, kuningnya GOLKAR, coklatnya jarum, hijaunya sampoerna kretek, indonesian blue-nya Bentoel, coba merah?-nya gudang garam, hijau daun, langit biru, hitamnya malam,

semua adalah pemaknaan dari sebuah “WARNA”, what the meaning of colour? warna yang hanya ada dalam dunia imaji manusia, warna yang tidak bisa disentuh, tidak bisa diraba, tidak bisa didengar, sementara hany a bisa dilihat, bisa dinikmati oleh indera penglihatan saja, tetapi dengan menciptakan ‘icon image’ tadi akan mudah dirasakan oleh kuping dengan media suara dan pelafalan.

coba dengarkan suara merah, rasakan warna hijau, ucapkan warna kuning, rabalah warna biru, ciumlah warna coklat, sentuhlah warna putih hitam dan sebagainya. akan tercipta kalimat yang sebenarnya konotasinya nggak pas, tetapi justru menjadi lebih puitis dan indah.

ku coba merangkai kata itu:

putihnya malam, menyapu lembut merahnya pagi ini, jariku masih terus menari di atas birunya kata, membius menghempas hijaunya perasaanku bersama detak jarum jam yang enggan berhenti, orange-nya hatiku, memerahkan semangat kemanusiaan, menghijaukan nurani orang akan musibah, memutihkan kesombongan dan keangkuhan diri, menghitamkan kafan lemah ini, langkah hati yang sudah terlanjur orange, tidak henti menapak menjejak, meninggalkan tapak emas, menuju birunya cakrawala kehidupan, bersama pagi dan matahari ……….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories