Posted by: selamugm | Friday, 8 August 2008

“most daring” di Global TV

ketika orang ada di depan TV dan melihat acara “most daring”,

sebuah acara yang menyajikan cuplikan-cuplikan hasil rekaman gambar, upaya pertolongan kepada korban di berbagai musibah, sebuah penyajian acara yang fantastik dan menarik. Usaha “TEAM RESCUE” yang sudah establish dan profesional, benar-benar melakukan pertolongan dengan keberanian yang luar biasa.

Itulah cita-cita ku !

di negara ini ada team rescue yang profesional dan benar-benar dibentuk unutk tugas-tugas penyelamatan, walau dalam situasi yang sesulit apapun. Entah apa yang dipikir oleh penyelenggara ini, ketika masih saja ada orang yang celaka, dan tidak ada upaya apapun untuk menolongnya. Biasanya jika terjadi musibah di medan yang sulit justru kematian yang diharapkan, agar dalam evakuasi lebih mudah. Memang sudah ada Dinas Pemadam Kebakaran di tiap propinsi, tetapi belum terlihat prodesionalitas kerjanya, masih melulu pada pekerjaan memadamkan api. Ya hanya memadamkan api !

dari diskusi dan dalam rapat kerja yang pernah aku ikuti di Pemerintahan Provinsi ini, pernah aku ungkapkan keinginan ku ini, tapi saat ditanyakan kepada pihak yang berkompeten di bidang itu, jawabannya adalah: bahwa tugas kita hanya memadamkan api, itu saja !

ada kebakaran hebat, mereka datang dengan cepat, dan hanya api yang menjadi perhatian, musuh mereka hanya api, dan menganggap api sebagai musuh, belum mengarah ke “RESCUE”nya!

bagaimana mungkin sebuah negara yang mempunyai anggaran dalam penyelenggaraannya, tidak mampu membentuk team rescue yang profesional dan hebat, seperti yang ditayangkan di TV swasta. Biasanya alasan yang disampaikan adalah tidak ada anggaran tersedia untuk itu. bagaimana mungkin sebuah negara yang berdaulat dan merdeka, namun masih belum serius dalam melindungi warga negaranya dari musibah.

Upaya dan kesadaran yang mulai muncul baru pada musibah yang terjadi karena bencana alam, ya sebuah musibah yang tidak bsia dihindari manusia, bencana karena alam saja yang masih menajdi perhatian, namun banyak musibah yang dianggap “musibah kecil” masih belum ditangani secara profesional. saat bencana besar terjadi di Jogja, gempa bumi 27 mei 2006, orang sudah melupakan tentang kesiap-siagaan yang pada saat itu begitu gegap gempita dengan ‘SIAGA MERAPI’.

dan mengapa juga saat terjadi gempa bumi di Bantul, harus kacau, sedangkan siap siaga nya MERAPI sudah berlangsung sejak April, berapa jauh jarak merapi dengan Bantul? kemana rumah sakit lapangan itu? kemana unsur SATKORLAK pada saat itu? tiba-tiba hilang entah kemana…………..

sebuah “profesionalisme” di bidang kesiap-siagaan belum terbukti,

mengapa hal itu terjadi ?

masih seputar anggaran juga, bahwa isue yang beredar saat itu , tersedia dana 3 milyar untuk SIAGA MERAPI, sehingga memunculkan “kesadaran” banyak pihak untuk ikut serta “peduli” dengan Merapi dan akibat-akibat yang mungkin ditimbulkan. Aku juga terlibat dalam sebuah POSKO SIAGA, namun aku tidak di bawah koordinasi SATLAK Sleman pada saat itu, sebab masih saja dalam melakukan pertolongan dipisahkan dnegan wilayah adminstrasi, begitulah akibatnya?

saat ada bencana di Bantul, semua logistik dan semua harta kekayaan kesiap-siagaan Merapi tidak bisa dikeluarkan dengan alasan itu untuk Merapi, tidak untuk wilayah lain, bagaimana mungkin saat itu ada beberapa gudang obat dan tiga rumah sakit lapangan tidak mampu mengkondisikan sitausi di Bantul, kemana barang-barang di beberapa barak pengungsi dan POSKO itu?

berapa jauh Bantul dengan Cangkringan Pakem dan Tempel? tidak lebih dari 100 km, tapi mengapa harus kacau saaat bencana berganti jenis, dari awan panas dan lahar dingin menjadi gempa bumi, keduanya adalah BENCANA ALAM, tidak perlu lagi dalam melakukan pertolongan emmbatasi diri dengan kewilayahan, itu hanya bentuk pelepasan tanggung jawab terhadap korban musibah.

Pernah suatu ketika terjadi musibah orang jatuh di jurang sekitar Klangon lereng selatan Merapi, saat berita dilaporkan ke Kaliurang, SAR KAliurang menjawab bahwa itu bukan wilayah kerjanya, itu masuk wilayah Klaten Jawa tengah, tetapi jarak antara Klangon dengan Kaliurang lebih dekat, sedang jarak antara Klangon dan Klaten kota sangatlah jauh, tapi mengapa masih saja ada alasan pembatasan penangannan berdasarkan pada administrasi, tetapi tidak berdasar pada sifat kedaruratannya.

tindakan emergency vs wilayah kerja administrasi?

Pada musibah orang hilang di gunung yang tersebar sepanjang wilayah Jawa Tengah, biasanya ya mahaiswa pecinta alam yang berasal dari Jogja, rata-rata yang mengalami musibah di gunung adalah warga Jogja, tapi apa mungkin SARDA DIY tidak ngurusi itu hanya karena itu adalah wilayah Jawa Tengah, naif dan buodoh banget, jika ingat dengan alasan senior-senior ku di SARDA ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories