Posted by: selamugm | Friday, 1 August 2008

DikLat 5 – 7

pada masa ini aku tidak banyak terlibat di aktivitas unit selam UGM,

yang masih kuingat saat itu, ada pepecahan dalam kepengurusan, dalam hal ini PH…

pernah suatu waktu separoh PH mengundurkan diri,

entah apa masalahnya, hingga harus mengadakan satu pertemuan di lapangan rumput di utara Balairung UGM, sekedar sharing dan memetakan masalah, sekaligus mencari solusi terbaik agar unit selam tidak bubrah dan terus berlanjut, …………..

flash back dikit,

saat itu sebagai ketua si …sopo kae cah pekok kae……..Siswandi…aku kadang lupu karo Iswanto sing cah unit keroncong, tur gabunge karo Menwa…., saat Ika masih sekertaris hingga kemudian jadi ketua selam, tapi Siswandi tuh cah ideot tenan, hanya mengambil keuntungan dan fasilitas jadi ketua, sekian lama dia jadi ketua selam ngak pernah ada kegiatan yang “menggigit”, justru dia cerita kalo habis ikut sebuah project kerja sama dengan world bank, dengan ikut kapal mewah dan ada program selamnya juga, kalo nggak salah pertukaran pemuda mahasiswa asia, dengan bangga dia bercerita tentang keikut-sertaannya, trus dapat sertifikat PADI, ada uang saku yang lumayan, justru aku dapet bocoran cerita dari Okem adiknya Candra yang wakil dari MAPA, aku lupa project apa itu? padahal dia jarang kumpul-kumpul dengan anak UNYIL, secara saat itu memang belum punya sekertariat, tapi paling ada kesempatan untuk saling bertemu di kolam renang, saat itu untuk latihan selam bisa seharian penuh di Kolam Renang IKIP, biasanya setelah maghrib kita berlatih selam di kolam renang hingga kolam renang tutup.

penetapan Ika jadi ketua adalah saat musyawarah anggota di Kaliurang di Wisma Merbabu dan yang menjadi Ketua Sidang adalah Yuswono, pada masa musyawarah kerja dan pembentukan kelengkapan pengurus aku tidak begitu memperhatikan, yang aku masih ingat saat ada ‘kompresor baru’ si BAUER JUNIOR diserahkan dari rektorat ke unit, kebetulan diserahkan saat ulang tahun selam, acaranya di rumah KUSUMA di belakang Balaikota Timoho, pakai tumpeng nasi kuning dan dido’akan bersama, alhamdulillah hingga saat ini masih bisa dipakai.

dan yang masih kuingat pada masa ini tokoh-tokohnya adalah Ika Risti, Eni biologi, Katrin rantang, Kris kehutanan, Toro, Tenno, Uuk, Fauzan almarhum, Desi dan adiknya dan pasangannya ‘rombongan anak Riau’ yang atlit renang UGM (jadi inget saat itu aku sebut unit selam sebagai “unit keluarga”).

bagaimana mungkin organisasi jadi kacau gara-gara hubungan kekasih, saling mbojo antar pengurus, sekertaris, bendahara, wakil sekertaris adalah kakak beradik yang saling pacaran. Mungkin ini lah yang menjadikan aku ketat dan galak dengan generasi berikutnya, dalam hal per’bojo’an antar anggota unit, mungkin karena aku nggak laku hingga iri dan dengki, sirik tanda tak laku alias ora peye peye!

kemudian suatu hari ada acara lotisan sebagai kesempatan kumpul denagn anak UNYIL, di Kebun belakang rumah Pogung Baru F-33, memang saat itu sering ada acara lotisan dan makan-makan di rumah anak-anak selam secara bergantian, juga saat Tomi pamit beribadah haji dan kita semua diundang makan dan tahlilan di rumahnya (tepatnya rumah pakdenya) yang dulu juga sempat menajdi sekertariat unit, di MEDARI jalan magelang KM jauuuuuuuhh, hingga akhirnya dapat tempat di garasi nya Pak Morisco di Pogung Baru.

saat berakrab-akrab dengan anak- anak UNYIL, membicarakan masalah-masalah unit, merencanakan kegiatan selanjutnya dan mencari solusi masalah yang ada, aku masih ingat dengan seorang anak angakatan terbaru, kutanya namanya UUK (mbakyunya Yayan),

saat itu dia datang terlambat dan kabarnya terakhir dia jatuh dari loteng kosannya, ya saat itu aku tanya kan: “apakah ada yang cacat?”, dan eh…rupanya yang cacat adalah angkatan diklatnya, sebab yang masih tersisa tinggal dia dan beberapa orang lagi (…tapi masih ada Olie juga sih), trus aku tanya yang lain kemana? katanya ada “perpecahan” pengurus, ada yang sudah nggak aktif lagi, bahkan ada yang merencanakan ‘resign’ dari kepengurusan, memang cukup genting dan panas suasana kepengurusan unit saat itu.

Yang aku perhatikan saat itu, unit selam sibuk merencanakan Kejuaraan Renang antar PT se Indonesia, dan pengurusnya intensif mengurus Unit Renang hingga unit selamnya terbengkelai, (…..itu penilaian subyektif ku saat itu…..), hingga ada pertemuan rekonsiliasi di lapangan rumput utara Gedung Pusat, sore hari dengan Pak Ju segala, aku juga ada sama Gepeng.

kemudian ada musyawarah anggota yang ‘berderai air mata’ , tangis kesebalan, tangis keharuan, tangis karena emosi yang meluap, tangis takut, tangis entah apa namanya saat itu?

dan akhirnya terpilih OLIE (Aulia Baihaqi) menjadi Ketua Umum menggantikan Ika, suasana unit sedikit adem, dan pelan-pelan mulai kompak lagi, kegiatan latihan rutin di kolam hidup lagi, beberapa program terlaksana dengan baik, hingga akhirnya …….waktu persiapan DIKLAT 8 UNYIL (ketua DikLatnya Raras/Wrenges Wijoraras), sejak pendaftaran hingga seleksi aku ikut aktif, karena saat itu ada teman mabok yang pas, ya… Si Banjar pekok itu ………..masih ingat saat seleksi anggota, rapat penerimaan anngota di rumah Rijal yang mewah di Godean Asri, saat itu baru ketahuan kalo dia anak gubernur.

Penerimaan anggota baru DIKLAT SELAM Angkatan 8 bersamaan dengan masa reformasi mahasiswa, saat setiap hari di depan gelanggang ada demo, hampir semua kegiatan mahasiswa macet karena iklim politik saat itu rawan banget, apalagi dengan kehidupan kampus. Ketika masih pada tahapan PAP kegiatan kelas ini dilaksanakan di Fakultas Kehutanan UGM, karena ada ‘penyerbuan tentara ke kampus’, suasana kampus yang kacau balau karena demo, akhirnya peserta diungsikan ke rumah mertuanya Gepeng di Jalan Kaliurang dan akhirnya dengan mengendap-endap pindah ke kontrakannya Rizal di Pandega.

sampai akhirnya berhasil mengadakan LPT ke Karimunjawa, aku berangkat ke Karimun menyusul, saat itu aku membawa Pak Dju, Desi, Rizal, Didit psikologi trus satu lagi aku lupa. Naik bus ke Jepara dan sampai di Pantai KArtini tengah malam, mencari tempat berteduh di bungalow pinggir-pinggir pantai, survey sana-sini akhirnya dapat sebuah surau yang jelek banget, kotor, lembab nggak terawat, numpang tidur di sana dengan beralas tikar, pura-puranya numpang sholat subuh, padahal ya cuma numpang tidur sambil nunggu kapal Muria berangkat, hingga akhirnya pagi itu kita sudah seger, bolehnya cuci muka dan bergerak ke kapal Muria, karena jarang naik kapal dan ombak saat itu lumayan besar, dengan perasaan ,ual dan pusing, seolah usus sudah ada di tenggorokan karena ingin muntah tapi nggak bisa, akhirnya sampailah kita di pulau idaman, Pulau Karimunjawa, dari dermaga baru itu kita berjalan lurus ke depan, ke arah utara dan mentok dapet sebuah rumah dengan banyak kaca, rupanya peserta dan panitia DIKLAT 8 menempati kantor PHPA (sekarang BKSDA) beristirahat sebentar dan bergabung dengan acara DIKLAT. Oh..ya saat di menginap di kantor KSDA itu kita harus pindah, untuk ngirit biaya dan mudah mencari tempat bilas, kita pindah ke rumah Heri Kucing, sebuah rumah baru yang belum dipakai, sebagai kantor Radio Pantai nya Karimunjawa. Saat itu kita dibimbing Pak Topo Pak Ikhsan dan Jupri, sebagai pelatih dan pendamping lapangan.

Ika Dyah, Dewi Pak Dju, Pipit Jovita, Saryoto yang gak bisa renang, Dedi Lombok, Dodi, Valdi, Yayan, malaysia kae…, wah siapa lagi yah lupa je……..hehehehe……

pada era ini…….dari PAP, LKK dan LPT angkatan 5, 6, dan 7 aku nggak begitu terlibat banyak (sibuk ikut demo GERAKAN REPOTNASI saat itu), hingga musim LPT tiba dan lokasinya berpindah ke Karimunjawa.

 

Jabrik


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories