Posted by: selamugm | Thursday, 31 July 2008

persiapan DIKLAT 2

sesudah Ekspedisi Pulau Bawean akhirnya senior-senior selam saat itu, menyerahkan tugas mempersiapkan kelanjutan DIKLAT selam kepada angkatan 1 sebagai Panitia DIKLAT 2, tetapi sebelumnya sudah ter”undi” ketua selam yang baru yaitu BUDI “kidal”, anak ekonomi yang karir di gelanggang diawali dari unit GAMA Band, walaupun dia sama sekali tidak bisa memainkan alat musik atau menyanyi.

Kenapa pemilihan Ketua selam saat itu dengan “diundi” ?

memang demikian adanya, setelah 2 calon (Jabrik + Budi) di ‘share’ kan, dipresentasikan ke depan musyawarah anggota, dilihat dari berbagai sudut pandang, positip dan negatipnya, baik buruknya, sebuah pemilihan ketua yang ‘luar biasa’, dipermalukan di depan semua anggota unit selam yang hadir, akhirnya diambil votting, tiga kali voting kedudukan sama, akhirnya diundi dengan bola pingpong oleh Qaweng sebagai “Ketua Sidang”, maka terpilihlah Budi sebagai Ketua Selam periode 1992-1993…kalo nggak salah loh ya? (…..yang jelas setelah Yoga sebelum Ika ‘kawat’ ekonomi…..)

Berawal dari rapat persiapan dan pembentukan Panitia, kemudian bergantian kita jaga meja pendaftaran di teras gelanggang, depan sekertariat SEKBER OLAH RAGA, saat itu aku akrab banget dengan Budi,

“tempat pendaftaran anggota baru Unit Selam UGM tahun 1992”, tulisan yang terpampang di spanduk balkonnya gelanggang. Tiga atau empat kali jaga pendaftaran, aku lupa, mengingat saat itu yang aktif di unit selam adalah anak-anak gelanggang semua, dan kebetulan yang mendaftar juga nggak jauh-jauh dari aktivis gelanggang. Diklat kelasnya masih diadakan di PPLH, saat itu aku masih inget memberi materi “komunikasi bawah air” dan PPPK dasar dengan Arbadi yang ketua PPPK.

PAP dilaksanakan di PPLH Sekip, yang agak beda LKKnya, dilaksanakan di Tirta Adi Kompleks Bandara Adisutjipto, kolam renang yang juga digunakan oleh siswa AAU latihan renang dan loncat dari tower. Saat materi LKK sering terganggu dengan suara pesawat terbang yang melintas di atas kolam renang, airnya berwarna hijau, begitulah LKK dilakukan di Maguwo dan Umbang Tirta Kridosono selama 3 hari berturut -turut, kemudian memasuki persiapan LPT ke Banyuwangi, sekertariat panitia DIKLAT 2 di kontrakannya Juswono, kos-kosan yang dijadikan tempat rapat dan menampung peralatan selam pinjaman dari berbagai pihak, aku kurang intens dalam persiapan pelaksanaan LPT Baluran, tetapi sebelum berangkat semua panitia dan peserta wajib mengikuti rapat persiapan terakhir LPT.

Yang masih teringat dan tidak terlupakan adalah saat aku tertinggal kereta api di Stasiun Tugu,

mengingat begitu banyaknya barang bawaan dan perlengkapan selam, mobil kijang biru miliknya Yoga harus mondar-mandir dari kosnya Juswono di Jalan Kaliurang – Stasiun Tugu, karena saat itu sudah kesiangan, maka saat mengambil barang yang terakhir kita terlambat sampai stasiun, mobil kijang Yoga baru sampai depan PLN Jl Mangkubumi tetapi kereta api yang akan kita naiki (jabrik, budi, dora) sudah melintas di palang pintu kereta api timur stasiun Tugu, melihat itu akhirnya mobil dipacu ke arah timur menuju stasiun Prambanan, sampai stasiun Prambanan aku turun dan menanyakan ke petugas PJKA, rupanya kereta sudah lewat 3 menit yang lalu, akhirnya mobil dipacu lagi ke stasiun Klaten, sampai di sana kereta sudah lewat 5 menit yang lalu, pikir punya pikir akhirnya kita putuskan untuk naik bus jurusan Madiun, kita ber tiga dengan membawa sisa barang team yang lumayan banyak. Aku Budi dan Dora yang cewek kecil imut tapi semangatnya luar biasa. Naik bus umum pun kita masih berdebat soal tujuan akhir, kita turun di Madiun atau Surabaya. Dengan perhitungan waktu yang cermat akhirnya kita berhasil mengejar kereta hingga ke Surabaya, di Stasiun Gubeng Surabaya kereta mampir dulu menjemput penumpang di Stasiun Pasar Turi, dengan strategi tertentu akhirnya kita berhasil menemukan kereta dimaksud di Stasiun Wonokromo Surabaya ( ada 3 stasiun di Surabaya) jadi harus mempelajari route perjalanan “kereta api sudi mampir” jurusan Jogja-Banyuwangi. Akhirnya seluruh tim UGM yang berangkat DIKLAT LPT ke Banyuwangi baru utuh dan bersatu di Surabaya, bersalam-salaman dan saling cerita, sambil cek semua barang bawaan. Akhirnya sampai sudah di Stasiun Ketapang, rupanya Juswono dan tim advance sudah menunggu di stasiun, dengan menyewa 2 mobil ANGKUDES selanjutnya team bergerak ke Taman Nasional Baluran, balik lagi ke jalan raya jurusan Surabaya-Banyuwangi. Selama perjalanan dari Stasiun Ketapang ke Pantai Bama Baluran aman dan lancar, sesuai dengan rencana, atas jasa baik Pak Djuwantoko yang sebelumnya sudah menghubungi Kepala Taman Nasionalnya, bahkan di Baluran kita boleh menggunakan mobil sedan kuno warna putih, kebanggaan Gepeng saat jalan-jalan ke kota belanja perbekalan untuk logistik di Bama.

Kegiatan penyelaman dimulai keesokan harinya, sebab kondisi fisik dan mental anggota tim sangat memprihatinkan, menempuh perjalanan yang jauh dengan kereta api, dari Jogja jam 08.00 wib sampai di Bama Baluran jam 20.00 wib. Kita masuk ke kawasan Taman Nasional sudah gelap, masih harus menunggu kawanan kijang dan banteng yang melintas, jarak dari pintu gerbang ke Pantai Bama kurang lebih 17 kilometer jalan off road. Malam langsung melakukan briefing, saat itu yang masih kuingat adalah BAsuki yang sudah menikah dengan Kiki jadi koordinator lapangan. Ada juga mahasiswa UGM yang ndobel kuliah di UPN bernama Rendro Prayitno, orang Surabaya yang banyak menghibur selama LPT. Banyak peserta yang dari MENWA Yon 1 UGM, ada Remond Padang, Edi samgong, Asih Samihadi, Widodo, trus yang jadi komandan provost ….wwaallaaah lupa je….(yang gigi palsunya lepas saat LKK) memang saat itu banyak anak menwa-nya. Oh ya ada juga Tomi Gustavi Utomo yang bapaknya KOPASUS……semangat banget cari pinjaman alat selam ke MAWIL HANSIP di Kepatihan, trus ada gadis-gadis MATALABIOGAMA Ratih ‘kabul’, Renti ‘batak’ Manurung, Jon ‘GO’, juga dosen-dosen UGM mBak Cut Suganda, Pak Dju, trus satu lagi dari KG lupa…, dan tentunya dua gadis manis yang takut timun laut Rina ‘pertanian’ dan Dora Eflin ketua UTKB (inget cerita:’salak pondoh jabrik’)….dan gadis-gadis UGM di bawah asuhan Ndari ’emprit’ dan Ceplis, yang kalo malam sehabis mandi nggak penah pake BH….., ada juga yang nakal saat jadi tim darat, ‘mencuri mabuk’ dengan mengurangi isi botol vodka ku, yang kusimpan rapat di bawah meja.

penyelaman yang meriah, masih dengan bonus main kayak laut, dengan catatan harus memperbaiki dulu kayak-kayak yang pecah, atas ide Gepeng yang membeli lem ‘plastik steel’ , akhirnya kita bisa menikmati asyiknya bermain kayak laut hingga terbawa arus ke hutan mangrove. Yang masih kuingat juga, semua peserta dan panitia saat itu ‘doyan sholat’ karena saat sholat jama’ah hanya aku yang enggak sholat, paling bercanda dengan Renti yang katolik. Penyelaman berlangsung aman, tertib dan lancar, walau harus berjalan kaki di antara hamparan limun sea grass dan karang tajam menuju tempat entry, aku sempat menDMi Dora dan Rina DJ, pokokmen rebutan karo Jeki………

yang nggak kalah menarik adalah “musibah mobil terbakar” saat pulang……….

tapi dilanjut besok berhubung mata dah ngantuk, dan ingatanku yang sudah lemah ( coz: otakku yang sudah banyak terkontaminasi zat ‘tetrahydro kanabinol’)

……………….to be continued……………………

 

Jabrik


Responses

  1. i was here mas jabrikkkkk, posting link saya dunks.. http://www.tommydepok.blogspot.com

  2. Jenenge Aswoto dab jabrik, sing cah provost menwa


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories