Posted by: selamugm | Thursday, 31 July 2008

kado ulang tahun UNYIL ke 21

diawali dengan sebuah pertanyaan :

kan ulang tahun ke-21, tapi kenapa kok angkatan diklatnya baru 18?”

hari lahirnya unit selam UGM disepakati bersama dalam musyawarah anggota, bahwa peringatan hari lahir selam adalah menyesuaikan dengan SK Rektor UGM No. sekian Tahun 1987, atau sejak dikirimnya Hasto tentara, Qaweng basket, Hamique mapa, Zaenal menwa ke jakarta.

belajar selam pada pak Odo Suhada, foto nya ada di album selam yang kuno,

setelah pulang kembali ke Jogja, yang dilakukan adalah sosialisasi olah raga selam di gelanggang UGM, diikuti oleh aktivis gelanggang saat itu, dan biasanya yang tertarik adalah anak-anak yang suka ‘out bond activity’, di antaranya mapagama, dayung, menwa, dan pentolan gelanggang lainnya.

ada sebuah kegiatan awal saat itu, yaitu Ekspedisi Karimunjawa 1988, sebagai koordiantor Yoga Atmaja yang juga aktif di Basket UGM, inilah yang kemudian membawa selam dekat dengan gelanggang, walaupun saat itu sama sekali belum ada pengurus maupun sekertariat,

setahu saya pengurusnya ya Yoga sama Qaweng, dan rata-rata yang bergabung ya anak basket, ada Petruk ekonomim ada Steve ekonomi juga, trus anak-anak MAPA yang seabreg, dari dayung bisa disebut Mas Agung Prabowo (mas nya Gepeng Teguh)………..dst……biar Hasto/Qaweng yang cerita!

baru pada Pebruari 1990 ada DIKLAT SELAM Angkatan I,

sebagai Ketua Diklat IBK Yoga Atmaja, diikuti oleh sekitar 25 peserta, salah satunya bernama Sugeng triyono, PAP dilaksanakan di PPLH UGM (jaman Pak Sugeng Martopo), LKK di Kolam renang COLOMBO dan Umbang Tirta Kridosono, LPT nya di Pasir putih Situbondo Jawa Timur.

LPT juga disertai oleh dua orang pelatih dari SIONAL Semarang, sebagai pendamping lapangan sekaligus juga pelatih peralatan selam,

saat itu unit selam UGM baru mempunyai 2 set SCUBA, yang lainnya pinjam ke SIONAL (sekarang LANAL) Semarang, Mas Cuk di LPWP (Lembaga Pengembangan Wilayah Pantai), alat pribadi mahasiswa UGM, dan tabrak sana-sini, asal itu alat selam ya dipinjam.

peralatan selam saat itu masih “horor”, belum ada BCD, masih dengan ‘life vest’ yang dilengkapi dengan tali tubuh, first stage nya hanya dilengkapi dengan single horst, regulator thok! tanpa ada pressure gauge dan deep meter, mengerikan sekali………….tapi emang demikian adanya, alhamdulillah sudah bisa menyelam saat itu…

usai DIKLAT I kemudian mencoba menyatukan visi dan mendiskusikan kegiatan setelah diklat, saat itu kebetulan pentholan-pentholan gelanggang ada di selam, trus ber’ide’ untuk melakukan sebuah ekspedisi,

intinya ya ingin menyelam lagi ke laut…tapi bagaimana caranya, duitnya siapa, trus kalo nyelam mo ngapain? setelah dirapatkan dan didiskusikan secara ketat, disepakati sebuah rencana kegiatan ke luar, yaitu “EKPEDISI PULAU BAWEAN”,

sebagai koordinator masih Yoga, ada 3 penelitian saat itu, yaitu:

  1. Penelitian biologi sebagai koordinat Yoga, Basuki, Kiki
  2. Penelitian arkeologi sebagai koordinator Arif Cakil, Oblo, Ceplis
  3. Penelitian sosial sebagai koordiantor Grace, Budi, Jabrik

ekspedisi ini dibiayai dengan Dana SDSB (dana sosial berhadiah) miliknya Depatemen Sosial, jaman sekarang ya TOTOR, TOGEL, atau judi gelap. Masih ingat dengan gesitnya seorang Yoga yang mondar-mandir Jogja-Jakarta, aku sempat ikut ngurus proposal ke LIPI di Jl Gatot Soebroto, kata bapak yang ada di LIPI saat itu, untuk proposal penelitian mahasiswa dihargai 150 ribu rupiah….ck…ck…ck…memprihatinkan!

tapi demi perjuangan untuk bisa menyelam ke luar Pulau Jawa, akhirnya ada bocoran bahwa untuk mendapatkan dana di DepSos (SDSB) harus dilengkapi dengan ijin MENPORA dan DIRJEN DIKTI, ya akhirnya sukses dapat dana itu.

Atas jasa baik seorang teman di Fakultas Ekonomi UGM, yang bapaknya seorang pejabat di ARMATIM Surabaya, dengan gaya lobi “rembug manis” akhirnya kita bisa berangkat ke Pulau Bawean dengan diantar KRI TONGKOL, sebuah kapal perang RI Armada Timur yang akan berangkat ke India. Menyempatkan mampir dulu ke Pulau Bawean ngantar anak-anak UGM yang udik dan ndeso buanget saat berada di pangkalan militer.

Jadi inget saat semua personil team ekspedisi masih berada di DISLAMBAIR Pangkalan Ujung Surabaya, untuk mengambil peralatan selam dan kompresor, sekaligus mengambil sertifikat selam yang sudah jadi. Sertifikat selam A1 tersebut diserahkan oleh Pak Frits Tandepadang Komandan Dislambair LANAL Surabaya, yang saat itu juga sebagai Ketua POSSI Jawa Timur. Tujuan ke markas AL itu selain mengambil alat selam juga menjemput 3 personil dari AL (Pak Rake, Alwan dan Soetopo), yang ditugaskan sebagai pendamping lapangan juga operator peralatan selam.

Selama berada di Surabaya seluruh anggota tim diberi penjelasan lengkap tentang tata cara (prosedur) selama di pangkalan militer, kalau ada bunyi-bunyian di seluruh pangkalan, termasuk klakson kapal dan lonceng di semua pos, harus segera berdiri sempurna dan menghadap ke bendera merah putih untuk memberi hormat, kamera dan semua peralatan dokumentasi tidak boleh ditenteng, selama kapal masih berada di pangkalan Ujung semua anggota tim harus berada di dalam kapal, tidak boleh terlihat dari luar, alasannya karena kita dari ‘orang sipil’, tidak semua orang sipil bisa menumpang kapal tempurnya AL, harus dengan prosedur tertentu. Saat inilah kita merasa bangga punya KTP WNI, ada gunanya juga KTP.

Sebelum keluar pangkalan kapal harus memberi hormat kepada Panglima, dilaksanakan dengan cara membunyikan klakson kapal dan bunyi-bunyian tertentu, setelah kapal tempur itu melintas di depan Patung Yos Soedarso yang gede banget, akhirnya kita boleh keluar dari kabin, dan berpotret di meriam, lihat lautan lepas, berpose di helipad, di ruang radar, bebas menjelajahi seluruh ruang kapal, dari palka hingga kabin, dari buritan hingga ke haluan ruang kapten. Saat di perjalanan kita dibelokan sedikit ke utara perairan Madura, untuk melihat lumba-lumba, dan disuguhkan demo cara mengoperasionalkan peralatan pemadam kebakaran di kapal, bagaimana cara membantu mematikan api dari kapal lain yang terbakar.

Selepas ashar di Bulan Pebruari 1991 akhirnya kita yang ber-18 ditambah 3 personil dari AL, berhasil menginjakkan kaki di Pulau Bawean, banyak sekali orang berkumpul di dermaga, maklum saja karena mereka tidak mengira ada kapal tempur merapat ke Pulau Bawean. Kita merapat di dermaga Sangkapura, Pulau Bawean hanya ada 2 kecamatan yaitu Kecamatan Sangkapura dan Kecamatan Tambak’

seluruh tim menginap di sebuah bangunan tua yang angker, penginapan milik kabupaten, sebuah rumah peninggalan belanda yang cukup serem bagi mahasiswa UGM, berada di pinggir laut dengan halaman rumah yang luas, sepertinya alun-alun dengan dua bangunan kecil di depannya. Dua pohon beringin besar di kanan kiri halaman menambah suasana horor penginapan. Ada menara MERCU SUAR di seberang jalan, lengkap dengan lampunya yang berdetak setiap malam.

dua hari di penginapan pemda itu, kemudian kita berpindah ke sebuah desa di seberang Pulau Gili dan Pulau Noko, dua hari di sana, pulang kembali ke penginapan pemda, satu hari kemudian kita ke Kecamatan Tambak menginap di rumah pak guru dan menyelam di Pulau Cina, tapi penyelaman di sini gagal, karena ombak besar dan sulit sekali mencapai dive point. Bahkan saat itu tali jangkar kapal sampe putus, Ceplis dan Emprit muntah-muntah tidak karuan, tim ku yang berjalan mengitari Pulau Cina juga tidak berhasil mendapatkan tempat entry yang aman, akhirnya kita mengadakan penelitian sosial dan latih tanding sepak bola dengan pemuda Bawean, juga volley, tapi TIM UGM saat itu kalah telak. Lain halnya dengan pertandingan basket melawan murid SMA, kita menang telak, maklum dalam tim kita ada Yoga. Qawenk. Cakil. Gepeng, yang semuanya atlet basketnya UGM.

dalam ekspedisi tahun 1991 tersebut, kita terlambat pulang, karena saat itu kondisi laut kurang bersahabat, tingginya gelombang dan kuatnya arus, mengakibatkan tidak ada kapal yang merapat ke Bawean, sungguh kita bisa merasakan sengsaranya rakyat pulau ketika terputus sistem transportasi lautnya. Semua pegawai negeri termasuk guru telat gajian, bensin harganya bisa jadi dua kali lipat harga normal, tidak ada beras yang datang, persediaan logistik masyarakat menipis, sebuah pengalaman berharga bagi kami semua mahasiswa UGM.

Saat itu berita tentang tingginya gelombang laut dan banyaknya jadwal pelayaran yang tertunda, menyebabkan banyak saudara dan keluarga anggota tim, menanyakan keselamatan tim ekspedisi yang berangkat ke Bawean, di gelanggang mahasiswa UGM. seorang OBLO yang menjadi penduduk tetapnya gelanggang sampe ditanya keberadaannya oleh keluarga. (baca=Organisasi Bocah Lali Omah)

Ya….dari pengalaman hidupku, rupanya Bulan Pebruari memang harus terus diwaspadai, terutama bagi mereka yang suka keluyuran di alam bebas. Kondisi alam dan cuaca, murni kondisi alam yang kadang mengecoh dalam perencanaan ekspedisi…..musim pancaroba, perubahan arah angin dari angin barat ke musim angin timur, biasanya mengakibatkan badai dan kekacauan arah angin.

(baca juga cerita tentang Jabrik hilang di Laut Jawa 2005, Dudi meninggal saat paragliding di Parangtritis 1994, musibah Gunung Slamet MAPAGAMA 2001, Angin puting beliung Kota Jogja 2007, anak kehutanan meninggal di Gunung Lawu 2008, Gagal nikah Pebruari 2006, ….dst…)

after BAWEAN EXPEDITION persiapan Diklat 2 UNYIL….

 

Jabrik


Responses

  1. hmm.. bukannya mas qaweng pernah cerita kalo beliau memberikan tgl 8 agustus 1987 sebagai hari kelahiran unyil karena hanya itu yang terpikirkan olehnya saat ditanya hari kelahiran unyil oleh somebody somewhere?? beliau spontan menjawab itu karena tgl itu adalah tgl ulang tahunnya, he..

    boleh juga tuh ditanya langsung ma para pendiri unyil kalo ada mereka dateng ato pas kita lawatan ke bali!

    tapi thanks juga buat jbx, emang saksi idup sejarah unyil. jangan mati cepet2 ya be! biar pada tau jbx seperti apa, timbang kami semua yang masih idup bercerita ttg jbx, repot!!🙂

  2. untuk para penyelam diseluruh Tanah Airku,
    bisa ga ya aku diajak nyelam di daerahku sendiri..
    kali2 aja ada yg punya rencana nyelam disini…., ajak dong.

    soalnya belum ada data atau kterangan “real” tentang kondisi bawah laut daerah sy

    please…..

  3. @mbak/mas yayakaluhara
    emang daerahnya dimana nih? coba aja dulu surface sekedar survey, maksudnya gak usah pake scuba dulu. sapa tahu anak2 ada yang rencana kesana. Emang dimana ya?

  4. @yayakaluhara

    nicknya keren..ga terpikirkan olehku..
    ada arti khusus ga?

    btw..tempat yang kamu sebutin di atas itu….dimana??

    aku lumayan interest dengan tempat yang kamu bilang coz dengan “kriteria: yang kamu sebutin itu (soalnya belum ada data atau kterangan “real” tentang kondisi bawah laut daerah sy) dah cukup banget untuk jadi alasan ngadain ekspedisi ke sana…

    tapi 1 aja nih pertanyaan saya..
    disana ada lautnya kan.. kalo g ada laut = ga bisa diving..🙂

  5. MET ULTAH BUAT GADJAH MADA DIVING SOCIETY

    SEMOGA SEMAKIN BANYAK DIVERS CANTIK+MULUS YANG GABUNG
    AGAR GA TERLALU KEDINGINAN DI ANTARA BUDDY YANG HOT

  6. @batfish

    “tapi 1 aja nih pertanyaan saya..
    disana ada lautnya kan.. kalo g ada laut = ga bisa diving.. :)”

    kata sapa gada laut gabisa diving…he he he

  7. mungkin bisa tak tambahin dikit.
    sehabis dari bawean barulah unit selam punya alat. beli 2 tabung, 1 bcd dan 2 regulator. bisa belinya gak sengaja. ketika itu saya ditanya oleh pak kus almarhum (rektor waktu itu) “bagaimana tentang hasil ekspedisi bawean apakah anak anak sehat semua?” saya tunggu laporan tertulis dari kalian ya.. langsung saja saya jawab ” kondisi teman teman semua sehat, minggu depan laporan sudah selesai kami buat dan bulan depan kita mengadakan seminar. cuma ada satu hal pak…” pak kus langsung menyela “apa itu?” . “kita menghilangkan 2 buah o-ring, yakni alat vital untuk menyelam kepunyaan dislambair armatim”. pak kus taya lagi, “berapa harganya? itu harus segera kita ganti.” saya jawab aja “harganya 1 buah o-ring 1 juta rupiah, kalau di total jadi 2 juta rupiah.” asal kalian tahun harga o-ring saat itu adalah Rp 20,-. “Besuk kamu ke ruang saya, minta uang sama mbak tatik, terus kamu langsung beli alat itu, dan bawa surat pribadi ucapan terima kasih rektor UGM ke komandan Armatim dan Dislambair”. saya hanya mengangguk saja, meski dalam hati pengin ketawa sekaligus takut takut, karena gak tanggung tanggung ngerjainnya.
    Keesokan hari saya ke rektorat, saya sudah disiapkan uangnya berikut biaya perjalanan naik bis ke surabaya. sampai sana saya langsung ke armatim untuk serahin surat, dan diterima langsung oleh komandannya. terus diajak makan siang, karena komandannya mau titip untuk balas surat ke rektor UGM langsung.
    Nah dari situ, saya langsung ke toko…. (lupa) untuk beli 2 tabung, bcd, regulator dan peralatan lain seperti fin, masker, snorkel dll. semua anak selam bingung. mereka tahunya alat ini bisa dibeli dari sisa anggaran kegiatan di bawean.

    cerita ini baru tak sebar ke anak selam setelah aku lulus. yang tak ceritain pertama basuki. sekarang ada di derawan dia. punya usaha penyelaman di sana. aku mau kesana gak sempat sempat.
    oke sekian dulu ceritanya…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories