Posted by: selamugm | Friday, 25 July 2008

catatan tercecer di komputer SARDA

Rabo kliwon, 18 April 2007,

Sejak bangun pagi tadi jam 08.00 hingga saat ini dah jam 09.50 wib, sambil minum kopi aku tuliskan ini, Kenapa ya setiap aku mendengar sebuah lagu instrumental, yang lebih sering disebut musiknya Kitaro, laki-laki gondrong dari Jepang……………..

Judul lagunya “KOI”, lembut, seksi, enak dan nyaman banget didengar,

saat aku mendengarnya terasa banget ayem dan adem, nyam-nyam di kuping ,

Damai tentram dan suasana menjadi sangat soft dan fresh,

Melantun lembut, menaiki nada tinggi rendah dengan ritme yang begitu nyaman terdengar di telinga, dalam kondisi kerja apapun, pasti bisa membantu membuat fresh para pendengarnya,

Ada kemegahan dalam irama musik ini, ada kegagahan dan heroisme ada juga kelembutan, ada kemewahan dan suasana yang kolosal dalam pancaran jutaan watt sinar lampu,

Imajinasiku melayang jauh melintas relung awan kebosanan, tegang otot leher ini seketika terasa kendor dan musik inipun terus mengalun, mengikuti suasana hati yang terus berjalan ikuti gerakan langkah jari jemari di atas tuts,

Masih terus menulis dan menulis di kantor ini!

Aku kadang merasa lebih nyaman dengan menulis, sebab aku anggap ini aktivitas positif, lebih manfaat dari pada chatting dan browsing yang kadang hanya mendapat kenyataan semu semata.

dengan menulis akan membantu melepaskan sesak di hati dan perasaan di batin, bisa melepas tekanan batin, stress. Merangkai huruf yang terangkum dalam satu tulisan, yang hanya sekedar berbentuk sebaran kata-kata dan tumpukan kalimat tak bermakna.

Namun inilah salah satu cara dalam mengeksplorasi emosi sebagai sebuah kegiatan untuk meluhurkan “kebudayaan”, yang kata Ki Hadjar Dewantara adalah : cipta, rasa dan karsa.

Beginilah sebuah “rasa” yang kemudian dikarsakan menjadi sebuah karya, mencipta sesuatu yang bermakna, bisa dirasakan orang, dibuat dengan perjalanan emosi mengikuti bait-bait hati dan langkah rasa, dalam memilih kata dan merangkai kalimat.

Apakah ini adalah gejala “kegilaan”? Aku rasa tidak, karena penilaian “gila” dan “normal”, hanya penilaian dari teori psikologi, ilmu “psikoclokgy” tidak bernilai absolut, sebab antara gila dan normal jaraknya hanya tipis. Bahkan ada teori yang tercipta dari otak orang gila dijadikan panutan orang normal di kemudian hari (ingat teori gravitasinya Sir Issac Newton)

Itulah kehidupan berjalan apa adanya, ce est la vie kata jean claude vandame.

mumpung masih bisa nulis, aku juga ingin curhat, bercerita ttg segala hal, tentang keseharianku di sini,

“perjalanan lembaga SAR ini” dari waktu ke waktu jalan di tempat !

Apakah akan menjadi baik atau justru menjadi bubar karena masalah intern. Sebenarnya masalah yang ada , terjadi di luar lembaga ini, tetapi dibawa masuk oleh oknum-oknum pengurus, sehingga menyebabkan terjadinya keruwetan di tubuh organisasi ini. Sungguh……memprihatinkan !

Aku masih percaya dengan orang-orang yang punya nurani sama.

Melihat kegiatan SAR sebagai tugas kemanusiaan, bukan sebagai proyek yang mengatas namakan ’kemanusiaan’.  Lain hal nya jika diterjemahkan sebagai suatu pelatihan, artinya ada kegiatan untuk memberi penjelasan dan latihan, agar tidak terjadi kecelakaan, atau minimal bisa menolong dirinya sendiri, jika terjadi musibah atau teman satu team atau orang disekililingnya.

Itulah sampai saat ini harus terus diperjuangkan program sadar ”SAFETY PROCEDURE’, budaya safety !

saat mendengar musik lembut yang mengalun, melewati lorong angin sela-sela tumbuhan pagar, segelas wine diantara bunga dan lilin, meja mungil dengan taplak katun tebal, seorang wanita cantik nan anggun duduk berlawan arah dengan seorang laki setengah baya. Mereka saling berpegangan, ke-dua telapak tangannya saling mengelus, mesra sekali……….bicara tentang indahnya kehidupan, saling senyum menggoda di antara keduanya, tiba-tiba terdengar suara……………….”thuuuitt…bretebret…ebret..ebret ..bret…..keduanya kentut bersama!”

(ah mo mencoba menulis cerita yang romantis, kok endingnya ngentut?)

Kembali menulis tentang suasana ruang komando kantor SAR ini,

Saat mendung sejak pagi hari tadi, udara dingin, angin enggan bertiup, sesekali terdengar gemuruh halilintar di langit, gerimis terus mengiringi siang ini, tidak ada kesempatan tanah mengering sedikitpun, dingin dan basah udara ini, ya sejak tadi pagi!

Aku yang tertidur pulas sejak berangkat tidur jam 07.00 wib pagi tadi, baru bisa beranjak turun dari vieldbed jam 13.00, suasana di luar gelap dan hujan,

Enak sekali siang ini, bagai berada disebuah villa kawasan wisata pegunungan, tempat manusia mencari kesegaran dengan mencari panorama alam.

Secangkir kopi panas temani ku menarikan kedua ujung jari ini, entah apa yang terjadi esok hari,

Saat suasana begitu romantis dan dingin seperti ini, namun hanya sepi dan kesendirian yang bisa kunikmati, sekedar menciptakan suasana harmoni dengan alam, saling senyum dan saling hormat di antara  unsur-unsur alam. Aku sudah pernah mengalami , semua lewat bersama angin dingin musim itu!

Pada saat itu, di sebuah tempat yang berhawa sejuk dingin, ada hutan pinus di sekitar komplek rumah mungil nan mewah, hampir setiap hari terjadi hujan, sempat aku tinggal dengan sebuah keluarga baru, yang sedikit kumuh. Sebenarnya rumah itu baru dan cukup besar untuk dua orang, tetapi terlihat kumuh. Lampu yang asal-asalan terpasang di ruang tamu, dua anak kecil dekil tidak begitu sehat ada di sana. Pakaian kotor dan tumpukan cucian kering dari jemuran menumpuk dan masih belum disetrika, seorang ibu yang cukup renta dengan bapak yang begitu sabar di antara cucu dan ke dua anak perempuannya.

“Mas dah makan belum?” tanya ibu renta itu pada seorang laki-laki muda.

“sudah Bu! tadi di warung depan pasar bunga, kebetulan ada sayur yang cocok he.he.he” sambil tertawa kecil laki-laki muda itu menjawab tanya sayang seorang ibu pada anak.

Musim cinta itu sudah lewat, dunia memasuki era tahun 2000, dari Jogja menuju Malang,

musim hujan yang dingin berganti dengan panas menyengat, akhirnya kembali pada suasana musim basah tahun ini.


Responses

  1. “kapan ada peristiwa ini?”
    “kok kelihatannya aku juga pernah mengalaminya?”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories