Posted by: selamugm | Wednesday, 23 July 2008

saat lepas tengah malam…

udara makin terasa dingin, sejak tadi pagi saat matahari mulai bersinar hingga siang yang panas,

cahya mentari sama sekali tidak terasa terik,

kemarau di kota ini, terasa dingin dan kering, puncak kemarau tahun ini,

sekarang dah tanggal 23 Juli 2008,

bulan bersinar terang di langit biru bertabur bintang,

angin bertiup lembut menusuk kulit tubuh, yang terbalut kain sarung kumal dan selimut bau yang sudah sekian lama tidak di cuci. suara TV dan radio komunikasi terus menemani perjalanan waktu jelang fajar.

“…selamat malam, adakah rekan yang monitor di frekuensi ini….”

terdengar suara berat cenderung  tenor dari mulut seorang laki-laki di radio komunikasi yang selalu stand by di frekuensi 14.816.0 MHZ,

“…yuuuk silahkan…selamat malam kembali…operator siapa ini pak?…”

“jabrik pak ! posisi di SARDA komplek kepatihan, seputar malioboro, sesuatu silahkan, langsung bongkar…”

begitulah sekilas pembicaraan di alat komunikasi yang lebih sering disebut “RIG” oleh para breaker, sebab ada lagi alat komunikasi yang lebih dikenal dengan istilah “HT”, namun sekarang sudah banyak orang punya HP,

antara Hand Phone dan Handy Talky adalah sama sebagai alat komunikasi, yang satu menggunakan pulsa sedang yang lain menggunakan frekuensi, yang sama sama menggunakan udara sebagai media rambatnya.

alkom atau alat komunikasi, saat ini sudah begitu berkembang hingga menjadi teknologi IT yang makin cepat dan akurat. saking banyaknya informasi yang mampu disampaiakn secara cepat dan membutuhkan respon yang tepat secara langsung, menyebabkan otak manusia semakin penuh dengan memori, yang kadang-kadang dapat menimbulkan sistem syaraf “HANG”, otak menajdi cepat lelah, tidak mampu menangkap dan menyimpan memori lagi, saking buanyaknya informasi yang masuk.

saat otak manusia mengalami kelelahan , sign dan symtom nya adalah rasa ngantuk yang sangat, bentar-bentar menguap, mata sudah separuh katub, semua indera berkurang responnya, hasrat untuk bergerak ke tempat tidur begitu tinggi.

bahkan kepulan asap dari berpuluh-puluh batang rokok tidak mampu menahan rasa kantuk, beberapa gelas kopi pun sudah kering ditenggak kerongkongan yang selalu terasa kering.

malam terus berjalan, menyusur jalur waktu menuju ke lembah pagi, angin malam genit berhembus menyentuh bulu kuduk yang terasa kering…

ah…kenapa malam seperti ini, sering kurasakan sebagai teman akrab, penuh kedamaian dan ketenangan, mungkin perasaan ku saja yang melankolis…

atau karena aku sedang menikmati alunan lagu dari DEWA yang berjudul KANGEN,

hingga aku terbuai ke masa yang telah lalu,

saat di sebuah tempat terpencil, jauh dari bising nya kota, pinggir pantai dengan pasir putih menghampar, pohon-pohon besar rapat sedikit menutup sinar bulan yang bersinar terang,

anak-anak alam bernyanyi di sunyinya malam, nyanyikan lagu cinta dalam komunitasnya, teriak lantang bebas merdeka, tanpa keraguan mengganggu tetangga atau lingkungan sekitar, secara emang di sekitarnya adalah hutan belantara dan laut lepas.

perempuan manis berparas sedikit runcing di hidungnya, berkulit eksotis tropis, hitam manis, rambut tergerai jatuh di punggung….

berjalan pelan menghampiri dengan mesra seorang laki-laki yang sedang duduk di sebatang kayu kering di pinggir pantai yang bersih,

terlihat tangan perempuan itu membawa secangkir kopi,

dengan halus dan mesra hampir tidak terdengar, karena angin laut membawa suaranya ke pelukan hutan bakau,

“mas ngopi dulu…….ini kopinya, kemanisan nggak?”

mesra sekali dia menyerahkan secangkir kopi kepada laki-laki yang diam di pinggir pantai,

“eee..eh..ah..e..e..terima kasih”

laki-laki itu menoleh dengan sedikit kaget sehingga terlihat ia gagap menjawab.

“kok…menyendiri di sini ada apa sih?”

“ah enggak…nggak apa-apa kok, cuma baru asyik menikmati laut aja”

menikmati laut katanya,

sebenarnya apa yang sedang dilamunkan dalam larutnya malam itu, apakah sekedar memandang laut yang hanya berujud permukaan laut yang naik turun, ciptakan ombak yang kejar-mengejar menuju ke pantai, atau mungkin sedang berpikir kenapa kok laut harus berombak, nggak seperti kolam renang yang tenang dan airnya pasti jernih,

memandang pantulan sinar bulan yang jatuh di cakrawala sambil sesekali menghitung jumlah lampu dari kapal nelayan yang kerlap-kerlip di tengah laut.

laki-laki sendiri di larutnya malam, bersanding dengan seorang perempuan cantik tinggi semampai, duduk di kayu kering yang terdampar di pantai berpasir putih.

tiba-tiba perempuan cantik tadi membuka pertanyaan,

” mas..boleh tanya ngGak?” dengan genit dia bertanya

“boleh, silahkan kalau emang ada yang ditanyakan”

“gini loh mas,

aku tuh kan punya cowok, tapi rasanya aku kok merasa sudah nggak ada feel lagi”

“maksudnya?”

“ya udah merasa nggak diperhatikan lagi, seolah sudah menjadi orang lain, sudah tidak merasa greng lagi”

“lho..lho…lho…, kok sudah tidak merasa greng bagemana maksudnya?”

“ya gitu deh……………..”

tiba-tiba saja perempuan muda tadi berlari kecil menuju ke penginapan yang letaknya kira-kira 25 meter dari bibir pantai,

” woooiii…mo kemana?”

“ntar mas…………kebelet pipis…hi.hi.hi..”

walah…..tiwas manteb arep macak bagus tur cool,

eh malah ditinggal pipis, yo wis ….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories