Posted by: selamugm | Wednesday, 23 July 2008

bagi-bagi cerita soal BMKT di Indonesia

BMKT ?

apa tuh BMKT,

BENDA BERHARGA ASAL MUATAN KAPAL TENGGELAM,

dulu banyak orang menyebut HARTA KARUN, TREASURE, KERAMIK CINA, EMAS BATANGAN, PERHIASAN PARA RAJA dan lain-lain sebutannya. Namun sekarang dengan adanya SK Presiden di era Gus Dur ke Megawati sudah ada pengaturannya.

Jadi bukan lagi sebagai ‘harta karun’, bahkan beberapa media menyebut pencurian harta karun di kawasan laut indonesia.

sebenarnya aktivitas pengangkatan kapal dan barang yang ada di bawahnya adalah pekerjaan SALVAGE UNDER WATER, pengapungan kapal tenggelam, sedang tahun pembuatan kapal tidak pernah didebatkan,

adalah PT JALAGADA yang saat itu direkturnya adalah Bapak Baruno Ariadno, saat ini beliau menjadi direktur PT Jaladimantri Internasional, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pekerjaan salvage, pekerjaan bawah air, dan yang paling sering dilakukan aalah pengapungan kapal’

kenapa kapal yang tenggelam harus diapungkan?

kadang kapal yang tenggelam berada di jalur pelayaran, sehingga mengganggu alur lalu lintas kapal, juga permintaan dari pemilik kapal mungkin ada alasan tersendiri.

eh..jadi ingat kapal SENOPATI NUSANTARA yang hilang, missing in action, hilang musnah tak berbekas, entah ada dimana wreck nya. yang jelas ada di perairan Laut JAwa, di sekitar Pulau MAndalika Jepara.

Pengapungan ‘sunken ship’ ini, biasanya dilakukan pada kapal-kapal yang masih baru, kapal yang masih opereted  dan  sehat, dilengkapi dengan dokumen pelayaran yang lengkap. sehingga dalam usaha pengapungannya harus diawali dengan pengenalan jenis kapal, termasuk karakter apungnya, ruang-ruang di dalam kapal, termasuk jenis mesin dan barang bawaan, semua harus lengkap datanya, baru kemudian akan didapatkan metode pengapungannya.

bagaimana dengan kapal-kapal kayu jaman Sriwijaya dan Majapahit dulu, termasuk juga Kapal VOC, Kapal Portugis, Kapal Spanyol, yang mungkin jumlahnya ribuan ada di dasar laut di seluruh dunia.

Apakah itu juga perlu diangkat?

ada beberapa kepentingan dalam pengangkatan kapal tenggelam ini,

mengingat muatan kapal tua / kuno biasanya berisi barang-barang pampasan perang, yang biasanya berupa barang berharga seperti keping mata uang, emas, keramik milik kerajaan, hiasan dengan ornamen unik dan lain sebagainya.

kalo kelompok arkeologis, berpendapat bahwa pengangkatan dan pembongkaran kapal lebih dari 100 tahun adalah sebuah ESKAVASI, mengingat kapal kuno adalah benda cagar budaya, yang sekarang sudah ada undang-undangnya.

jadi melihat kapal kuno yang tenggelam dan berada di dasar laut sebagai ARTEFAK, sebagai benda cagar budaya yang harus dilindungi, sekaligus juga dimanfaatkan.

tapi kelompoknya Fred dan Mr Luc akan berpandangan berbeda, bahwa kapal itu berisi benda-benda kuno dan antik, yang nantinya bisa dijual di lelang crhristy dengan harga yang menggiurkan.

Ingat keuntungan yang di dapat oleh pengangkat kapal NANKING CARGO yang sukses menjual di lelang christy dengan total harga mencapai separoh dari APBN Indonesia.

menggiurkan para investor asing, menggoda para birokrat di lingkungan BudPAr, menggelitik nurani petinggi negeri, dan yang jelas buatku adalah …..mencetak lapangan kerja baru…….., tentunya bagi para penyelam, baik yang sudah bersertifikat maupun penyelam alam yang berasal dari pulau-pulau kecil.

BMKT/harta karun/treasure/keramik cina/coin kuno/emas batangan/guci jaman dynasti ming, nan, yuan, atau keramik dari jaman “fifth dynasties” ada dan sudah pernah diangkat di nusantara ini.

caranya dapat informasi adanya kapal tua di dasar laut ?

melalui sebuah ekspedisi panjang yang mengeksplorasi setiap jengkal dasar laut nusantara, khususnya adalah laut yang dulu ramai dilewati kapal-kapal dagang, termasuk juga JALAN SUTRA yang terkenal itu.

dalam hal ini harus dipelajari dulu sejarah pelayaran di dunia kemaritiman, laporan-laporan perjalanan dari catatan pelaut di masa dulu, nah….data seperti ini hanya bisa didaptkan dari museum dan arsip nasional msing2 negara.

jika dengan metode ekologi kelautan, maka daerah yang banyak jenias ikannya atau ada kerumunan terumbu karang yang rapat di daerah yang mempunyai dasar laut rata, maka dimungkin kan terumbu karang dan sarang ikan itu dulu adalah sebuah kapal.

jadi dengan menggunakan fish finder dan GPS tentunya, bisa dijadikan indikator atau tanda-tanda alam bahwa di situ ada “artefak”nya.

kadang informasi juga di dapat dari para nelayan yang daya jelajah lautnya melintas hingga ke pinggir-pinggir pantai yang sempit dan dalam, kadang jaring ikannya nyangkut pada tumpukan keramik pecah di dasar laut, saat jaring diangkat ada sebagian keramik yang terangkat, maka didapatkan titik lokasi kapal tenggelam.

dan hingga saat ini aku masih terus merenung dan bertanya,

“ada di mana Kapal SENOPATI NUSANTARA berada”

mungkin sudah banyak ikannya di sana, dengan karang yang mulai tumbuh di sekujur badan kapal, dengan ratusan orang yang ada di dlm nya.

sedang aku pernah nyak-nyakan, pernah ikut terlibat dalam pembongkaran sebuah kapal tua, katanya sih kapal buatan Tahun 907 M, atau masuk ke dalam era FIFTH DYNASTIES jika mengacu pada sejarah cina.

bayangkan aja di Tahun 907 sudah ada kapal yang berlayar dengan muatan ribuan keramik dan bermacam ragam barang dagangan yang ada di dalamnya. Padahal di tahun-tahun itu kan masih seger-segernya BOROBUDUR, sebab candi ini katanya didirikan sekitar Tahun 800 an M.

jika benar itu kapal tahun 907 berarti akan merobah sejarah di indonesia, sejarah nusantara yang baru diawali tahun 1000 an ke atas, dengan dua kerajaan besar sebagai buktinya, SRIWIJAYA dan MAJAPAHIT.

tapi mungkin ahli sejarah nusantara yang lebih ngerti dan kompeten menceritakan ini, agar anak-anak jurusan sejarah dan jurusan arkeologi fakultas ilmu budaya, mempunyai lapangan kerja.

dibutuhkan ahli-ahli sejarah dan arkeologi untuk mengungkap apa yang ada di dasar laut nusantara sebenarnya, sehingga bangsa kita tidak melulu mencari ladang minyak baru di dasar laut, setelah sumur minyak di daratan sudah habis dieksplorasi dan dieksploatasi.

masih banyak yang belum diketahui isi dan kondisi dasar laut di Indonesia, ada apa aja, apa yang bisa dimanfaatkan…

salah satunya adalah BENDA BERHARGA yang berusia ratusan tahun, biasanya berupa emas dan keramik, yang jelas tidak bisa busuk karena mikro organisme, bentuk dan isi nya kadang masih bisa  dipertahankan dengan eskavasi yang benar, dan sesuai dengan SOP yang dikeluarkan oleh Departemen Budaya dan Pariwisata, tetapi justru yang mempunyai kewenangan untuk memberikan ijin pengangkatan adalah Dirjen PSDKP dari Departemen Kelautan da Perikanan.

kesemrawutan birokrasi dalam usaha pengangkatan kapal dalam hal ini BMKT, meminjam istilah temen-temen bule yang ada di kapal adalah “fuckin beaurokracy jakarta”.

bahkan melibatkan 8 departemen lain, yang berkompetensi memberi perijinan, sedang di Philipina hanya satu departemen saja yang mengurus barang purbakala, ijin cukup ditujukan ke Museum Nasional dan semua akibat yang ditimbulkan karena pengeluaan ijin tersebut, menjadi tanggung jawab bersama pemerintah yang berdaulat. Jadi nggak perlu memerlukan birokrasi yang berbelit, sehingga menyebabkan investor enggan untuk melakukan usaha di Indonesia.

kalo emang mo dijual di Christy ya harus dihitung biaya produksinya, termasuk eksplorasinya. Tapi jika memang melulu untuk kepentingan sejarah, untuk kepentingan mendokumentasi sejarah bangsa ini, ya jangan ada pengangkatan barang yang gak perlu, cukup sample barang aja,

bukankah lebih baik jika WRECK itu dijadikan ‘MUSEUM BAWAH LAUT INDONESIA’,

sebuah museum yang bisa dikunjungi, bisa diabadikan, bisa dilihat secara visual, bisa disentuh, bisa disaksikan oleh pengunjungnya, karena berada di bawah laut, maka pengunjung museum ini harus mampu menggunakan peralatan selam, dan prosedur penyelaman dengan semua kaedah-kaedahnya.

tapi apa mungkin ?

siapa yang akan membiayai ekplorasi kapal-kapal usang di dasar laut?

apakah mungkin APBN bisa dipakai untuk membiayai penelitian arkeologi bawah air, tanpa menjual barang yang sudah dieksplorasi, sehingga kalo ditinjau dari segi TEORI EKONOMI nggak akan masuk sama sekali, mengeluarkan biaya banyak tapi ada pemasukan, paling hanya didapat dari tiket pengunjung yang masuk ke museum, itulah permasalahan BMKT ditinjau dari segi arkeologinya.

kalo ditinjau dari segi ekonomi, maka harus melihat nilai barang yang diangkat, berapa kira-kira harga barang tersebut jika dijual setelah diangkat ke permukaan.

biasanya orang akan tenang-tenang saja dan sama sekali enggak ada minat untuk memperhatikan dasar laut indonesia, tapi setelah melihat tumpukan emas dan keramik yang ada di puluhan container, melihat gudang penyimpanan di kota, melirik prediksi harga jika terjual nanti, nah……………

banyak yang ribut, banyak yang ingin ikut ambil bagian, banyak pernyataan ttg BMKT bin harta karun ini, “bahwa itu adalah barang milik negara, barang langka dan bersejarah, harus dilindungi, tidak boleh dibawa ke luar negeri,  mempunyai nilai-nilai luhur sejarah pada masa lalu..bla..bla..bla..”

namun hingga saat ini negara, dalam hal ini pemerintah belum menunjukan keseriusannya dalam upaya pengembangan ARKEOLOGI BAWAH AIR, Departemen BUDPAR dengan BP3 dan Balai Arkeologinya masih disibukan dengan arca dan candi, fosil tulang belulang manusia purba, punden berundak, kapak batu, hingga saat ini belum serius mengembangkan  teknologi under water, terutama dalam upaya  pengembangan kaidah-kaidah dalam ‘under water escavation’.

artefak mana dan bagaimana yang bisa diperjual-belikan?

benda cagar budaya apa yang harus dipertahankan keutuhannya, termasuk situs tempat ditemukannya benda cagar budaya.

mungkin ada pemikiran baru dalam hal ini?

tantangan untuk arkeologi di indoneisa,

dari pada kedahuluan sama orang-orang bule yang aktif melakukan usaha pengangkatan BMKT di wilayah nusantara, dengan semua upayanya untuk menyogok sana-sini, demi keluarnya ijin pengangkatan dan segera melakukan aktivitas pengkatan di laut.

Jangan ada lagi barang purbakala yang rusak karena ketidak-tahuan atau karena salah birokrasi, atau karena kemungkinan tidak berharga di pasar lelang internasional, sehingga kemudian dibiarkan terbengkelai di Pamulang dan hancur lebur pecah jadi sampah tak berarti.

artefak yang dijadikan barang bukti justru menjadi rusak dan menajdi tidak berharga lagi, gara-gara ketidak tahuan dan perebutan kepentingan deni mendapatkan tumpukan dollar berlimpah.

maunya barang itu langsung ada di kota dijual laku mahal, tapi tidak memahami betapa sulitnya mengangkat barang tersebut dari dasar laut, berapa banyak biaya yang dikeluarkan untuk mengangkat barang tersebut, …………………….

(kalo ini murni curhat nya JABRIK)

wah wis ngelih…

madang dhisik……

sanes wekdal disambung malih…………………to be continued…………….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories