Posted by: yanworks | Thursday, 26 June 2008

balok dan gatot terancam mahal

Trend bahan bakar alternatif menjadi gencar dibicarakan dan diupayakan setelah gonjang-ganjing harga minyak dunia yang terus melonjak naik. Banyak rumor mengatakan bahwa kenaikan harga minyak ini adalah karena ulah spekulan, ada pula yang mengatakan bahwa produksi minyak dunia tidak seimbang dengan pemakaiannya. Negara2 pengekspor minyak dunia yang tergabung dalam OPEC pun tenang2 saja menanggapi isu ini, terutama Saudi Arabia yang memiliki cadangan minyak terbesar didunia.

Berikut gambar yang menunjukkan negara mana yang punya cadangan minyak dan negara mana yang memakainya: silahkan klik disini untuk link aslinya

Who has the oil?

Dulu Indonesia termasuk salah satu negara pengekspor minyak OPEC, tapi sekarang? kalo tidak salah, sejak tahun ini, Indonesia menyatakan keluar dari OPEC. Sangat tragis memang, yang dulunya negara penghasil minyak, sekarang harus ikut susah payah terkena imbas lonjakan harga minyak. hehehe. Tapi jangan heran, sebenarnya tidak hanya Indonesia saja, tapi negara adikuasa seperti Amerika Serikat dan Inggris pun ikut kena imbas dari kenaikan harga minyak ini.

Dari beberapa kalangan ada yang bersyukur dengan adanya gejolak ini, karena peristiwa ini mendorong berkembangnya teknologi pengembangan bahan bakar alternatif secara pesat. Pengembangan teknologi ini pun tidak hanya dimonopoli oleh negara-negara maju dengan kemampuan finansial dan teknologi yang memadai, bahkan masyarakat di negara berkembang seperti Indonesia pun tidak kalah dengan industri-industri besar dalam usaha pengembangan ini.

Bahan bakar yang diharapkan dari pengembangan teknologi ini adalah bahan bakar yang ramah lingkungan, dapat diperbarui, dan jika bisa dihasilkan dari sumber daya alam yang bebas (seperti angin, sinar matahari, air, dll).

Di negara2 maju, teknologi semacam ini sudah mulai diaplikasikan pada peralatan sehari-hari, contohnya adalah kendaraan berbahan bakar listrik ataupun hidrogen cair, konstruksi rumah dengan listrik matahari, dan masih banyak lagi yang lain. Namun kenyataannya, teknologi semacam ini belum dapat diproduksi secara masal, salah satu keterbatasannya adalah biaya produksi yang dikeluarkan untuk membuat barang2 semacam ini masih terlalu besar jika kemudian dijual secara bebas pada publik. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa teknologi ini akan dapat kita nikmati di masa depan.

Bagaimana dengan Indonesia?

Jika dilihat dari produksi minyak bumi, indonesia merupakan negara yang mengalami keterpurukan, bukan berarti saya pesimis dan menjelekkan negara sendiri, tapi dari yang saya telaah sebagai orang awam ya memang seperti itu kelihatannya. Dulu indonesia termasuk dalam negara2 OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries), namun baru-baru ini indonesia menyatakan mundur dari keanggotaan OPEC. Mungkin Indonesia sudah mengalami kesulitan hanya untuk memenuhi kebutuhan negaranya sendiri, apalagi harus ditambah beban menjadi negara pengekspor minyak. Yang jelas jangan sampai Indonesia masuk kedalam negara2 importir minyak atau OPIC (Organization of the Petroleum Importing Countries), hehehe, kalo yang satu ini karangan saya sendiri.

Tapi jangan salah, masyarakat indonesia termasuk orang2 yang tiba-tiba pintar atau tiba-tiba kreatif karena kepepet keadaan. Yah, mungkin sebenarnya memang sudah pintar, tapi kadang musti ada triger atau katalis (baca: pemicu) agar benar-benar muncul kepintaran atau kreatifitasnya.

Buktinya? Apakah ada yang masih ingat kompor matahari? yang bentuknya mirip parabola dan carakerjanya adalah dengan mengumpulkan panas yang terpantul pada satu titik? atau mungkin yang baru-baru ini marak dibicarakan, yaitu blue-energy atau ada pula yang menyebut banyugeni, yang penemunya adalah seorang warga nganjuk bernama Joko Suprapto.

Kompor Matahari

KOMPOR MATAHARI

Dikatakan bahwa blue-energy ini dapat menghasilkan bahan bakar alternatif yang asalnya dari air. Walau secara teori bisa saja memisahkan hidrogen (H) – yang dapat digunakan sebagai bahan bakar – dari air (H2O) namun secara teknologi hal ini sulit dilakukan, dan sekali lagi, teknologinya akan sangat mahal. Dan memang rumor yang berkembang belakangan, blue-energy ini hanyalah hoax (kebohongan) semata.

Tapi yang Berikut ini tentu saja bukan hoax, dapat dibuktikan secara ilmiah.
Baru2 ini saya membaca di salah satu web berita ternama bahwa saat ini sudah ada alternatif bahan bakar pengganti minyak tanah, yaitu ethanol yang dihasilkan dari ketela. Untuk berita lebih lengkap, silahkan baca di http://foto.detik.com

Disebutkan dalam berita tersebut bahwa melalui proses fermentasi yang menggunakan ragi, singkong dan limbah yang menandung pati dapat dihasilkan ethanol hingga 95%. Dan satu liter ethanol dari hasil fermentasi tadi setara dengan sembilan liter minyak tanah. Hal ini tentu saja dapat menghemat pemakaian bahan bakar minyak yang ada. Saat ini ethanol singkong ini juga sedang diteliti untuk menjadi bahan bakar kendaraan bermotor.

Nah begini kekhawatiran saya, sebagaimana hukum pasar jika suatu barang banyak dibutuhkan oleh pasar sedangkan persediaannya tidak meningkat maka harga akan barang tersebut akan naik. Jika kebutuhan akan ketela naik untuk pengolahan bahan bakar pengganti minyak tanah, tidak menutup kemungkinan bahwa harganya pun akan naik juga. Sedangkan ketela, selain di olah menjadi bahan bakar tersebut juga dikonsumsi oleh masyarakat indonesia, bahkan sudah populer bahwa ketela itu adalah makanan rakyat kecil.

Apa contohnya?
Anda tahu Gatot? Makanan dari ketela yang dari penampilan kadang sudah membuat tidak berselera karena berwarna hitam dan pliket (apa ya bahasa indonesianya ini? lengket?) atau mungkin anda lebih mengenal Balok, makanan dari ketela yang dipotong dadu agak kecil kemudian di goreng garing (untuk informasi saja, UNYIL pernah juga bergerak di bidang bisnis balok ini, ya untuk kegiatan mengumpulkan dana tentunya).

Kalo combro atau cemplon tentu anda tahu, makanan dari parutan singkong + kelapa yang diisi dengan gula merah atau bahan lain kemudian digoreng. Makanan-makanan diatas akan sangat nikmat jika disantap pada pagi hari ditemani teh atau kopi sambil memandang matahari terbit di teras rumah, hmm, membayangkannya pun sudah membuat saya lapar.

COMBRO

COMBRO

GATOT

GATOT

Apa jadinya kalo semua kenikmatan itu harus berebut dengan produksi ethanol yang baru saja di publikasikan itu? Tentu saja kekhawatiran saya akan naiknya harga ketela akan benar2 terjadi. Apa mungkin besok kita hanya bisa menyalakan kompor dengan ethanol ketela tanpa ada Balok, Combro atau Cemplon yang di goreng diatasnya. Wah kalo saya tidak rela hal itu terjadi, kenikmatan dikala fajar bisa hancur berantakan tanpa itu semua.

Saya lebih rela makan Nasi + Telur dari pada tidak bisa makan Combro, Balok dan makanan dari ketela lainnya. hehehe.
(Ya iya lah, masak ya iya dong. artis aja Mulan Jamila bukan Mulan Jamidong)…


Responses

  1. kalo menurutku, teori pemakaian yang lebih besar daripada pemasokan itu emang teori yang paling masuk akal,..
    tapi seandainya sebenernya teori spekulan sdang terjadi saat ini, mungkin ini kejadian yang sangat mengerikan. bayangkan seandainya ada suatu negara yang selama bertahun-tahun sudah merencanakan suatu tindakan untuk memanfaatkan habisnya sumber minyak dunia, kemudian sejak jauh sebelumnya sudah mulai menimbun minyak-minyak yang mereka peroleh. suatu saat ketika cadangan minyak dunia benar-benaar habis, negara itu akan jadi satu-satunya negara yang dapat memonopoli harga minyak, bahkan mungkin menjajah suatu negara yang sudah tidak memiliki sumber energi untuk menerbangkan peswat tempur yang sudah dibeli mahal-mahal dan dihujani kontroversi dalam proses pembeliannya.

    penelitian sumber energi alternatif memang sangat diprioritaskan agar bila suatu saat sumber energi utama kita telah habis, kita sudah terbiasa untuk mewnggunakan energi alternaatif tersebut dan menaikkan “pangkatnya” menjadi sumber energi utama generasi selanjutnya.

    apa sih di dunia ini yang ga butuh pengorbanan..coba pikirkan, semua yang kita lakukan pasti selalu mengorbankan sesuatu yang lain entah kta sadari atau tidak. kalo minyak dah abis, dan kita menentang energi alternatif, jangankan demi makan combro, bikin nasi + telur aja dah gag bisa……

    tanya kenapa….

  2. mayan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories